Rabu, 09 April 2014

Kembali lagi dengan dunia maya untuk berbagi cerita tentang topik hari ini (3 April 2014) kelas psikologi konseling bersama 6a yang dibimbing oleh Pa Bambang, nah ini dia pembahasan kita hari ini, yaitu:
1. Counseling Approaches
2. Types of Counseling
3. Respon
            Yuk, kita coba bahas satu-satu. Oke mulai dari point yang pertama ya.. Counseling Approaches memiliki persamaan makna dengan meaning, the roles, which a is the best. di Counseling Approachesi ini ada tiga pendekatan, yaitu:A. directive- memiliki persamaan makna dengan to guide, to channel, to show yang artinya berlangsung secara dominan oleh konselor, karena semua aturannya diberikan oleh konselor. B. Non- Directive Approach- disini  klien yang lebih mendominasi, karena segala halnya dikembalikan oleh konselor kepada klient. C. Elective Approach- pendekatan ini merupakan kombinasi dari pendekatan directive dan pendekatan non- directive approach. Tidak ada yang mendominasi antara client ataupun konselor. Lalu mana dari tiga pendekatan ini yang paling bagus untuk digunakan oleh konselor? jawabannya semua pendekatan ini bisa dipilih sesuai kepada masalah yang dihadapi oleh klientnya. Tidak ada yang bagus tidak ada yang buruk.
Yuk lanjut ke point kedua, Types of Counseling memiliki tiga jenis, yaitu Types Individual, Types Group Counseling, and Types Peer Counseling. Masing- masing dari Tipe- tipe ini memiliki aspek- aspek yang berbeda antara yang satu dengan yang lain.
Perhatiakan table 1.1 dibawah ini
No
Aspek
Types Individual
Types Group Counseling
Types Peer Counseling
1
No of Counselor
(Jumlah counselor: jumlah client)
1: 1
(Satu couselor: Satu client)
1: >1
(Satu counselor: lebih dari satu client, biasanya sampai lima atau enam orang)
1: 1 atau 1: >1
(Berperan sebagai client dan berperan sebagai counselor)
2
Problem
(Masalah yang dibawa oleh client)
Different
(Masalah yang berbeda)
Similar
(Masalah yang sama dialami oleh beberapa orang, kemudian sama-sama datang ke konselor)
Bisa different, atau bisa juga similar
3
Time
(Waktu yang dibutuhkan saat counseling)
Waktunya lebih lama
Waktunya lebih singkat
Waktunya tergantung (effective)
Table 1.1
Point ketiga, point terakhir yang akan kita bahas dalam pertemuan kali ini, yaitu Respon. Memiliki dua jenis yaitu verbal dan nonverbal, masing-masing memiliki point sendiri- sendiri. Respon verbal dengan “RIS GARRIS FC” dan resbon non-verbal dengan “HOTTFEC”. Tanda kutip tersebut merupakan penjelasan dari masing-masing point yang akan dijelaskan dibawah ini:
     RESPON
Verbal                                                                                                
 “RIS GARRIS FC”                                                                                             
Restastment     : membuat pernyataan kembali yang sudah dinyatakan oleh klien                
Interpretation  : menafsirkan conflict yang dihadapi oleh klien
Summary         : meringkas apa saja yang telah disampaikan selama konseling berlangsung
General lead   : pengarahan secara umum kepada klien
Acceptance      : menerima apapun keadaan kliennya
Ressurance      : meyakinkan kembali jawaban yang klien berikan
Rejection         : menolak apabila tidak sependapat dengan solusi yang diberikan klien
Interpellation   : berintruksi dengan pertanyaan
Supposition     : memberikan pengandaian kepada klien
Facilitation      : memfasilitasi
Clarification    : mengklarifikasi            
Non- Verbal
“HOTTFEC”
Head nodding             : mengangguk- nganggukan kepala, sebagai symbol setuju- mengerti- atau menerima
Occasional Smiling     : memberikan senyuman sesekali kepada klien
Tone of voice               : intonasi suara, agar jelas dan dimengerti oleh klien apa yang kita ucapkan
Touching                     : sentuhan, sebagai symbol menguatkan
Folding hand              : melipat tangan di bawah dada, sebagai symbol menolak- atau males
Eye contact                 : berani melihat klien
Cossing leg                  : duduk menyilang

Nah, sampai sini dulu ya dunia maya, selanjutnya pasti akan ada banyak cerita yang meberitahu pengetahuan lebih banyak lagi :))

Rabu, 02 April 2014

Konselor juga manusia                Ya, betul sekali... pada dasarnya kita semua ini manusia biasa yang sama- sama dilahirkan oleh orang tua kita dan seizin Allah SWT. Membawa keadaan yang sama tanpa bekal apapun setelah terlahir ke dunia ini. Hingga tumbuh menjadi besar, dan memiliki- memiliki perbedaan pada setiap individunya. Kan manusia unik katanya ;). Setiap manusia yang tumbuh pasti memiliki hawa nafsu, dan didominasi oleh nafsunya. Ya… hal tersebut menjadi salah satu karakteristik yang terdapat di dalam diri manusia dari sekian banyak karakteristik lainnya. Begitupun dengan seorang konselor, konselor juga manusia gitu loh :DAda hal- hal umum yang dimiliki manusia pada kebanyakan orang sama halnya yang dimiliki oleh konselor. Namun ada faktor- faktor khusus yang hanya bisa dimiliki oleh konselor dan tidak dimiliki oleh manusia pada umumnya. Kenapa,? Karena para konselor lebih belajar dan memahami tentang bagaimana mengatur emosi ketika sedang marah atau sedang bahagia, belajar untuk mengkoping ketika sedang keadaan tertekan sehingga tidak mudah stress, lebih bisa mengatur waktunya agar lebih efisien dan produktif penggunannya, lebih bisa memecahkan masalah yang dihadapinya. Betul tidak seperti itu? Ya meskipun orang biasa juga bisa mempelajari hal tersebut tapi tidak seahli dan secepat para konselor karna hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari para konselor.Nah kalau para konselor yang mempelajari bagaimana seharusnya dia bias mengkoping dengan baik, mengatasi dan menyelesaikan masalahnya, menghargai diri- sendiri tapi masih saja marah- marah kalau ada masalah, masih saja gegabah kalau tidak sesuai dengan yang diharapkannya, lalu apa bedanya konselor dengan manusia umum yang lain? Seharusnya si malu ya -_- ..nah hal inilah yang menjadi pemikiran dasar untuk berbeda, ada sifat- sifat umum yang membedakan dirinya dengan orang lain. Itu semua didukung oleh latar belakang pendidikan yang diikuti oleh para konselor.Lalu siapa saja yang boleh menjadi konselor??? Teman- teman yang lulus S1 jurusan bimbingan konseling ditambah dengan pendidikan profesi bisa menjadi konselor. Tapi ko pada kenyataannya dilapang banyak jurusan sarjana psikologi yang berprofesi menjadi konselor? Boleh nggak si kalau kaya gitu sebenernya? Jawabanya tidak boleh sebenarnya. Tapi masalahnya pemasukan dari pendidikan profesi yang hanya baru ada di UNES, UNJ, UPI, dan UNP tidak seimbang dengan kebutuhan lapangan. Maka, diambilah dari lulusan sarjana psikologi untuk menjadi konselor di sekolah- sekolah. Dari hal ini seharusnya meskipun dari lulusan sarjana psikologi sebaiknya dia harus tetap mengikuti persyaratan  dan berkompetensi dibidangnya sesuai dengan UU Kemdikbud.
Adapun kompetensi guru, konselor, yaitu:-          Pedagokgik                             : kemampuan untuk belajar, keterampilan
-          Personal guidance                  : kemampuan komunikasi intrapersonal
-          Social guidance                      : kemampuan untuk sesame manusia
-         
Professional                           : bekerja secara profesioanal dengan tanggung jawab yang diterimanya.