Konselor juga manusia Ya, betul sekali... pada
dasarnya kita semua ini manusia biasa yang sama- sama dilahirkan oleh orang tua
kita dan seizin Allah SWT. Membawa keadaan yang sama tanpa bekal apapun setelah
terlahir ke dunia ini. Hingga tumbuh menjadi besar, dan memiliki- memiliki
perbedaan pada setiap individunya. Kan manusia unik katanya ;). Setiap manusia
yang tumbuh pasti memiliki hawa nafsu, dan didominasi oleh nafsunya. Ya… hal
tersebut menjadi salah satu karakteristik yang terdapat di dalam diri manusia
dari sekian banyak karakteristik lainnya. Begitupun dengan seorang konselor,
konselor juga manusia gitu loh :DAda
hal- hal umum yang dimiliki manusia pada kebanyakan orang sama halnya yang
dimiliki oleh konselor. Namun ada faktor- faktor khusus yang hanya bisa
dimiliki oleh konselor dan tidak dimiliki oleh manusia pada umumnya. Kenapa,?
Karena para konselor lebih belajar dan memahami tentang bagaimana mengatur
emosi ketika sedang marah atau sedang bahagia, belajar untuk mengkoping ketika sedang keadaan tertekan
sehingga tidak mudah stress, lebih bisa mengatur waktunya agar lebih efisien
dan produktif penggunannya, lebih bisa memecahkan masalah yang dihadapinya.
Betul tidak seperti itu? Ya meskipun orang biasa juga bisa mempelajari hal
tersebut tapi tidak seahli dan secepat para konselor karna hal itu sudah
menjadi makanan sehari-hari para konselor.Nah
kalau para konselor yang mempelajari bagaimana seharusnya dia bias mengkoping dengan baik, mengatasi dan
menyelesaikan masalahnya, menghargai diri- sendiri tapi masih saja marah- marah
kalau ada masalah, masih saja gegabah kalau tidak sesuai dengan yang diharapkannya,
lalu apa bedanya konselor dengan manusia umum yang lain? Seharusnya si malu ya
-_- ..nah hal inilah yang menjadi pemikiran dasar untuk berbeda, ada sifat-
sifat umum yang membedakan dirinya dengan orang lain. Itu semua didukung oleh
latar belakang pendidikan yang diikuti oleh para konselor.Lalu siapa saja yang boleh menjadi
konselor??? Teman- teman yang lulus S1 jurusan
bimbingan konseling ditambah dengan pendidikan profesi bisa menjadi konselor.
Tapi ko pada kenyataannya dilapang banyak jurusan sarjana psikologi yang
berprofesi menjadi konselor? Boleh nggak si kalau kaya gitu sebenernya?
Jawabanya tidak boleh sebenarnya. Tapi masalahnya pemasukan dari pendidikan
profesi yang hanya baru ada di UNES, UNJ, UPI, dan UNP tidak seimbang dengan
kebutuhan lapangan. Maka, diambilah dari lulusan sarjana psikologi untuk
menjadi konselor di sekolah- sekolah. Dari hal ini seharusnya meskipun dari lulusan
sarjana psikologi sebaiknya dia harus tetap mengikuti persyaratan dan berkompetensi dibidangnya sesuai dengan UU
Kemdikbud.
Adapun
kompetensi guru, konselor, yaitu:-
Pedagokgik : kemampuan untuk
belajar, keterampilan
-
Personal guidance :
kemampuan komunikasi intrapersonal
-
Social guidance : kemampuan untuk sesame
manusia
-
Professional : bekerja secara
profesioanal dengan tanggung jawab yang diterimanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar