Rabu, 02 April 2014

Konselor juga manusia                Ya, betul sekali... pada dasarnya kita semua ini manusia biasa yang sama- sama dilahirkan oleh orang tua kita dan seizin Allah SWT. Membawa keadaan yang sama tanpa bekal apapun setelah terlahir ke dunia ini. Hingga tumbuh menjadi besar, dan memiliki- memiliki perbedaan pada setiap individunya. Kan manusia unik katanya ;). Setiap manusia yang tumbuh pasti memiliki hawa nafsu, dan didominasi oleh nafsunya. Ya… hal tersebut menjadi salah satu karakteristik yang terdapat di dalam diri manusia dari sekian banyak karakteristik lainnya. Begitupun dengan seorang konselor, konselor juga manusia gitu loh :DAda hal- hal umum yang dimiliki manusia pada kebanyakan orang sama halnya yang dimiliki oleh konselor. Namun ada faktor- faktor khusus yang hanya bisa dimiliki oleh konselor dan tidak dimiliki oleh manusia pada umumnya. Kenapa,? Karena para konselor lebih belajar dan memahami tentang bagaimana mengatur emosi ketika sedang marah atau sedang bahagia, belajar untuk mengkoping ketika sedang keadaan tertekan sehingga tidak mudah stress, lebih bisa mengatur waktunya agar lebih efisien dan produktif penggunannya, lebih bisa memecahkan masalah yang dihadapinya. Betul tidak seperti itu? Ya meskipun orang biasa juga bisa mempelajari hal tersebut tapi tidak seahli dan secepat para konselor karna hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari para konselor.Nah kalau para konselor yang mempelajari bagaimana seharusnya dia bias mengkoping dengan baik, mengatasi dan menyelesaikan masalahnya, menghargai diri- sendiri tapi masih saja marah- marah kalau ada masalah, masih saja gegabah kalau tidak sesuai dengan yang diharapkannya, lalu apa bedanya konselor dengan manusia umum yang lain? Seharusnya si malu ya -_- ..nah hal inilah yang menjadi pemikiran dasar untuk berbeda, ada sifat- sifat umum yang membedakan dirinya dengan orang lain. Itu semua didukung oleh latar belakang pendidikan yang diikuti oleh para konselor.Lalu siapa saja yang boleh menjadi konselor??? Teman- teman yang lulus S1 jurusan bimbingan konseling ditambah dengan pendidikan profesi bisa menjadi konselor. Tapi ko pada kenyataannya dilapang banyak jurusan sarjana psikologi yang berprofesi menjadi konselor? Boleh nggak si kalau kaya gitu sebenernya? Jawabanya tidak boleh sebenarnya. Tapi masalahnya pemasukan dari pendidikan profesi yang hanya baru ada di UNES, UNJ, UPI, dan UNP tidak seimbang dengan kebutuhan lapangan. Maka, diambilah dari lulusan sarjana psikologi untuk menjadi konselor di sekolah- sekolah. Dari hal ini seharusnya meskipun dari lulusan sarjana psikologi sebaiknya dia harus tetap mengikuti persyaratan  dan berkompetensi dibidangnya sesuai dengan UU Kemdikbud.
Adapun kompetensi guru, konselor, yaitu:-          Pedagokgik                             : kemampuan untuk belajar, keterampilan
-          Personal guidance                  : kemampuan komunikasi intrapersonal
-          Social guidance                      : kemampuan untuk sesame manusia
-         
Professional                           : bekerja secara profesioanal dengan tanggung jawab yang diterimanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar